JAKARTA, 24 April 2026 – Selama enam dekade, lanskap kesusastraan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Majalah Sastra Horison. Didirikan pada tahun 1966 oleh tokoh-tokoh ikonik seperti Mochtar Lubis, PK Ojong, Zaini, Arief Budiman, hingga Taufiq Ismail, Horison telah tumbuh menjadi wadah paling krusial bagi pertumbuhan penulis dan pemikir di tanah air. Menyadari nilai sejarah dan akademis yang luar biasa tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengundang undangan dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin untuk terlibat dan menjadi Saksi dari eksistensi Majalah Horison yang sudah memasuki usia ke 60 tahun. Acara ini bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam”, diadakan di Selasar lantai 3 Gedung Ali Sadikin Perpustakaan Jakarta di Kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat
kegiatan ini bukan sekadar agenda pengenalan media terhadap pembelajaran sastra di prodi, melainkan sebuah ajakan bagi mahasiswa untuk menyelami langsung bagaimana sastra Indonesia bergerak dari masa ke masa. Pameran ini menyuguhkan pameran yang kaya, mulai dari perjalanan pembentukan majalah, transmisi para sastrawan yang penuh kritik tajam, hingga sampul-sampul ikonik yang merekam jejak zaman. Salah satu daya tarik utama adalah kesempatan melihat naskah-naskah asli legendaris, termasuk naskah fenomenal yang berjudul “Angkatan ’66 telah Mati” karya HB Jassin.
Acara dimulai dengan pengantar yang oleh Esha Tegar Putra selaku tim kurator majalah Horison, ia menyampaikan bahwa perkembangan sastra Indonesia saat ini tidak lepas dari majalah Horison. Selanjutnya, acar ini menyajikan refleksi Kebudayaan dengan refleksi Kebudayaan Arif Budiman yang disampaikan oleh Hamzah Muhammad, dalam catatan tersebut menceritakan perjalanan pertama kali Horison Lahir sebagai wadah bagi sastrawan Indonesia.
Selain itu, acara ini diperkaya dengan sesi testimoni dari Bambang Bujono, mantan redaktur majalah Horison. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan rekam jejak pengalamannya selama mengabdi di redaksi. Beliau menekankan peran krusial Horison sebagai wadah yang berhasil melahirkan deretan sastrawan besar tanah air. Lebih jauh lagi, ia menegaskan bahwa pada masa kejayaannya, majalah ini bukan sekadar publikasi media, melainkan penentu arah dan standar estetika dalam peta kesusastraan Indonesia.
Salah satu poin reflektif dalam acara ini disampaikan oleh sastrawan sekaligus redaktur Horison, Jamal D. Rahman, yang juga pernah mengampu mata kuliah Sejarah Sastra dan Kajian Puisi di PBSI UIN Jakarta. Dalam pidato kuncinya, ia memberikan perspektif yang menggugah filosofi mengenai pameran ini.
“Saya ingin memahami judul itu sebentar. Dalam sejarah sastra Indonesia, kita terbiasa menghafal yang terbit. Kita memuji edisi-edisi yang terbit tepat waktu, karya-karya yang terbit di media besar, penulis-penulis yang terbit, namanya menjadi kanon. Tapi pameran ini mengajak kita melakukan sesuatu yang lebih jujur: ia menengok ke dasar, ke apa yang tenggelam. Karya yang tidak dimuat, juga bocoran yang hilang dalam,” ujar Jamal D. Rahman pentingnya arsip bagi karya-karya yang mungkin luput dari pandangan publik.
Setelah sesi pertunjukan, testimoni, dan pidato, para pengunjung dipandu oleh Esha Tegar Putra untuk berkeliling ke ruang pameran. Ia menjelaskan sejarah pembentukan hingga perkembangan Horison dari masa ke masa melalui dokumen-dokumen yang dipamerkan. “Ini adalah beberapa bagian kecil saja dari majalah Horison yang kami dapatkan dari PDS HB Jassin,” ujarnya saat menunjukkan berbagai artefak literasi kepada mahasiswa.
Tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam” yang diusung dalam pameran ini merefleksikan dinamika dunia literasi, bagaimana karya besar dilahirkan dan bagaimana tantangan zaman sering kali melupakan media serta gagasan jika tidak dirawat dengan konsisten. Kehadiran mahasiswa PBSI UIN Jakarta pada pameran ini menegaskan komitmen program studi dalam menjaga api kesusastraan Indonesia agar tidak redup, dengan cara mendekatkan generasi muda pada sumber primer sejarah sastra mereka.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PBSI UIN Jakarta diharapkan tidak hanya memahami Horison sebagai sebuah majalah sastra konvensional, tetapi juga menyadari menjanjikan sebagai gerakan kebudayaan yang secara konsisten menjaga warisan keindahan sastra Indonesia. Di tengah arus informasi yang serba cepat, pemahaman akan sejarah dan apresiasi terhadap “yang tenggelam” diharapkan mampu membentuk karakter siswa sebagai calon pendidik dan sastrawan yang memiliki kedalaman berpikir.
Oleh: Dhama Maulana